Friday, 3 April 2009

ADA RUPIAH DI BALIK SAM[PAH

ADA RUPIAH DIBALIK SAMPAH

Oleh JB Basuki

Sampah adalah limbah, yang harus dibuang jauh dari tatapan mata. Inilah cara pandang lama, tradisi lama orang memperlakukan sampah. Berbeda dengan cara pandang baru yaitu sekelompok orang yang mulai peduli untuk mengolah sampah. Mereka mampu mengubah sampah menjadi berkah rupiah. Contoh nyata adalah apa yang kini saya lakukan. Saya sendiri heran. Kenapa dari telekomunikasi dan Humas kok ke cebur ke sampah. Apakah gara2 ketemu Pak Renald Khasali 2 tahun lalu, sehingga saya begitu jatuh cinta dengan sampah dan upaya reduksi emisi gas rumah kaca - faktor penyebab global warming ? I don’t understand myself.

Namun, yang jelas saya bangga menjadi garbologist alias tukang olah sampah Sampah benar-benar memiliki nilai ekonomis/jual dalam tangan-tangan kreatif. Yang terpenting adalah niat, komitmen dan sedikit kemampuan untuk mengubah timbunan sampah menjadi berkah rupiah – GiGo – Garbage In Gold Out – Dari sampah jadilah rupiah.

3 Kunci Utama

Ada 3 kunci utama yang harus diperhatikan agar seseorang memiliki cara pandang positif terhadap sampah, yaitu :

  1. sosialisasi - kenali jenis sampah dan pahami nilai gunanya
  2. memiliki niat - kemauan untuk mengolah bukan membuang
  3. miliki kemampuan - untuk mengubah sampah menjadi sesuatu yang bernilai

1. Sosialisasi.

Kata pepatah ” seeing is believing” – lihat dulu baru yakin percaya. Selagi kita belum melihat langsung pemberdayaan sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat kita cenderung tidak peduli. Tahap awal untuk mengubah niat orang adalah dengan sosialisasi dan memperkenalkan kepada khalayak bahwa sampah bak saham adalah prospectus. Ada ekonomis seperti : kompos; biomas; arang briket untuk memasak atau asap cair hasil dari pirolisasi atau pengarangan sampah organik.

Melalui sosialisasi terjadi perubahan dan cara pandang baru seseorang terhadap sampah. Sampah tak harus dibuang dan dicampakkan, tapi bisa dicintai, diakrabi sejak dini dari hulunya. Mengubah kebiasaan negatif ( membuang/mencampakkan) itu perlu waktu dengan proses sosialisasi yang menerus.

Mengetahui dampak pembuangan sampah secara liar yang membahayakan lingkungan itu juga perlu seperti : timbulnya polusi co2, air lindi dan polusi tanah, munculnya gas metan ch4 yang sangat2 membahayakan, lingkungan menjadi kotor dll.

Secara umum, warga belum mengetahui dampak negatif tersebut. Dengan membuat orang paham terhadap bahayanya kita berharap munculnya kesadaran dan kepedulian untuk ikut berbuat sesuatu yang positif, seperti : tidak buang sampah sembarangan, mau memilah jenis sampah, mau berhemat listrik tenaga batubara dll. Perubahan pola pikir ini hanya mungkin dicapai melalui proses sosialisasi yang menerus/berkelanjutan

2. Kenali Jenis Sampah.

Sesuai jenisnya sampah terbagi kedalam 2 macam yaitu limbah organik dan limbah anorganik. Limbah B3, itu urusan instansi dan institusi terkait, sudah ada yang mengatur.

Mencampur-adukan antara kedua jenis limbah tersebut akan menimbulkan masalah yang merepotkan di kemudian hari. Dengan mengenali limbah sesuai jenisnya, seseorang dapat melakukan pemisahan antara yang organik dan anorganik sejak dini dari hulunya. Dengan demikian akan menghindarkan cara olah sampah di hilirnya yang relatif tidak manusiawi. Siapa mau sih mengolah sampah gado2 yang yang baunya menyengat. Hanya pemulung dengan dengan segala keterpaksaannya sudi bergelut dnegan smapah di hilir. Tapi mereka bukan mengolah, mereka mangais dan memungut sesuatu yang ia pandang bernilai saja. Memisah dan memilih sampah sesuai jenisnya itu penting.

3. Pahami nilai guna. Hal ini merupakan proses lebih lanjut setelah seseorang mengenali jenis sampah. Dengan memahami nilai guna masing-masing jenis sampah, seseorang bisa memisahkan antara limbah yang satu dengan yang lain dari sejak dini. Kegiatan memilah dan memilih ini sangat penting di saat awal. Simpul-simpul hulu produsen sampah adalah keluarga, komnitas pasar, komunitas perkantoran dll. Sayang simpul-simpiul itu masih berpegang pada habitus lama bahwa sampah ya sampah yang harus dibuang dan dicampakkan. Sebagai generasi hijau, apalagi sudah diundang UU Pengelolaan Sampah sejak Mei 2008 kita harus bertanggung jawab, perlakukan sampah sesuai atauran perundangan. Setidak bisa ikut men treat smapah menjadi GiGo. Sebab, sekali lagi sampah kini sampah benar-benar bisa diubah menjadi sesuai yang bernilai. Bila Pabrik Semen Cibinong bisa mengubah sampah jadi dollar melalui ”emission trade and cap” . Saya taka mau kalah . ” To me, garbage is indeed rupiahble” . Pesanlaha mesin crusher buatan e-Green (jbb) and dollarable. Sebab dari sampah bisa jadi berkah seperti : kompos, biomas, arang briket organik sebagai energi dapur dan cairan distilasi hasil pengolahan sampah organik menjadi cairan pengawet makanan.

Namun, sekali lagi saya katakan, untuk bisa mengubah sampah menjadi rupiah, diperlukan niat, kemauan dan kemampuan. Hal ini bisa muncul setelah proses sosialisasi dan penyadaran akan dampak bahaya smapah bila tak diolah dan nilai kegunaan sampah bila dikelola dengan baik. *** Penulis adalah pendiri e-Green , konsultan pelatihan ubah sampah jadi berkah, tinggal di Jakarta . jbbasuki@yahoo.com; jbbasuki@digitalsignageindonesia.com

OLAH KOMPOS DARI MEJA MAKAN

MENGOLAH KOMPOS DARI MEJA MAKAN

Oleh JB Basuki

Setelah tertunda bertahun-tahun, akhirnya RUU Pengelolaan Sampah disetujui oleh DPR –RI 9 April 2008 lalu, untuk kemudian akan diundangkan oleh Presiden RI, meski juga tertunda karena kalah prioritas dengan masalah kanaikan BBM. Untuk implementasi operasional UU itu masih perlu PP, Kepmen, Juklak dan Juknis, sehingga masih harus menempuh jalan panjang.

Apa itu Sampah ?

Pengertian limbah atau sampah begitu luas. Dalam tulisan ini kita batasi saja sampah atau limbah keluarga. Dalam lingkungan rumah tangga, sampah sesungguhnya adalah limbah hasil perilaku manusia. Sampah adalah limbah yang tak terkelola dengan baik, karena tidak ada niat untuk mengelola atau karena alasan tidak memiliki nilai ekonomis lagi. Dalam komunitas lingkungan lebih luas lagi, sampah terjadi karena produk perilaku manusia, hewani dan produk alami (flora dan fauna).

Karena perilaku manusia, sampah bisa menjadi ”gado-gado” - sampah organik dan anorganik bercampur menjadi satu, berbau menyengat dan menjijikkan. Sebenarnya, bila saja kita mau memisah-misahkan sejak awal, peminat limbah (pemulung) bisa memungutnya tanpa harus menutup hidung. Dan, sampah bisa diberdayakan sesuai peruntukannya.

Mengapa ada sampah, pada dasarnya karena kita sendiri memproduksi sampah atau menyampah dan tidak peduli mengolahnya. Hal yang lebih mendasar lagi karena diri kita sendiri adalah ”sampah” – dalam artian berperilaku menyampah, tidak peduli , tidak memiliki cara pandang baru untuk memperlakukan sampah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis Bila mau jujur, sampah adalah gambaran dan cermin diri manusia sendiri.

Jangan Buang Sampah

Dengan adanya UU Pengelolaan Sampah, ada hak dan kewajiban serta sanksi hukum terhadap aktivitas semua pihak yang melanggar undang-undang tersebut. Pemerintah juga berkewajiban memberikan kompensasi dan insentif bagi warga masyarakat yang melaksanakan UU itu, tapi juga memberikan pinalti kepada yang mengabaikan.

Dalam Pasal 12 UU itu disebutkan, setiap orang wajib mengelola sampah dengan wawasan lingkungan. Sedangkan pengelola kawasan, baik permukiman maupun kawasan komersial, industri dan kawasan khusus, termasuk pengelola fasilitas umum/sosial juga diwajibkan menyediakan sarana pemilahan sampah.

KLH sendiri mendorong penerapan program 3R ( reduce, reuse dan recycle) untuk menangani sampah kota. Konon, KLH akan memasukkannya ke dalam kriteria penilaian program pemenangan penghargaan Adipura bagi daerah terkait. Mulai Juni 2008, setiap Pemda sudah harus memberikan rencana penutupan TPA dalam 2 tahun ke depan dan menerapkan program 3R bagi warganya. Program 3R juga akan mendukung terciptanya lingkungan yang bersih , indah, nyaman dan mengurangi emisi gas rumah kaca yang menjadi biang keladi pemanasan global. Melalui usaha mengolah sampah lapangan kerja baru juga terbuka dan taraf ekonomi warga bisa lebih meningkat.

Sebagai warga gereja yang berada pada tataran umat basis lingkungan., apa yang bisa kita perbuat dengan sampah di rumah dan sekeliling kita ? Banyak cara untuk mengolah sampah menjadi sesuatu yang bernilai seperti : kompos, biomas dan biogas. Sedangkan untuk jenis sampah anorganik bisa didaur ulang menjadi aneka macam barang yang berguna dan bernilai jual.

Olah Sampah Jadi Kompos Dari Meja Makan

Apa yang sulit dalam siklus pengelolaan sampah keluarga adalah aspek proses sosialisasi, yaitu mengubah budaya dan cara pandang anggota keluarga dalam memperlakukan sampah. Sebagai misal, harus ada pemahaman dan komitmen nyata dulu untuk secara bersama-sama melakukan kegiatan 3R dalam lingkup keluarga. Selama keluarga belum satu cara pandang, ada saja kendala dalam pelaksanaannya.

Teknik mengolah sampah organik dengan sistem Takakura adalah cara praktis yang bisa dilakukan oleh setiap keluarga sejak sampah berada di meja makan. Berikut adalah 6 tips mengubah sampah organik menjadi kompos yang relatif mudah dan tidak bau dengan teknik Takakura:

Pertama, siapkan gunting untuk memotong sisa-sisa sayuran dan makanan selagi masih ada di meja makan . Potong menjadi kecil-kecil untuk memudahkan proses dekomposisasi

Kedua, campur dan aduk bahan sisa-sisa makanan dengan kompos jadi, dengan perbandingan 2 : 1 (bakal kompos 2 dan kompos jadi 1) . Beli atau siapkan jenis kompos jadi yang terbaik, sebagai starter proses dekomposisasi.

Ketiga, tempatkan adukan bahan kompos ke dalam kardus atau keranjang plastik khusus. Beri alas dan tutup bahan kompos dengan serabut kelapa yang terbungkus dengan kain kasa.

Keempat, aduk bahan kompos 2 X seminggu secara menerus hingga 6 minggu.

Kelima, sampah dapur telah menjadi kompos. Untuk memperoleh jenis kompos yang halus lakukan penyaringan, dan sisakan kompos secukupnya untuk starter pembuatan kompos pada tahap berikutnya

Keenam, kompos siap jual atau dipergunakan sendiri untuk memupuk tanaman hias atau buah-buahan.

Kata pepatah, " the only change people like is when the change makes a noise in their pocket.“ - Orang mau berubah bila perubahan itu memberikan nilai rupiah di sakunya" . Nah, mari kita berubah. Olah sampah menjadi kompos mulai dari meja makan dengan sistem Takakura. Cara ini bisa memberikan getaran rupiah di saku anda, walau nilai kecil bagi kantong anda. Selamat mencoba. ! jbbasuki@yahoo.com – Penulis adalahgarbologis dan praktisi olah sampah, tinggal di Jakarta.

Sampah, Banjir & Kemacetan : SIAPA PEDULI ?

Sampah, Banjir & Kemacetan

SIAPA PEDULI ?

Oleh JB Basuki

Ada tiga persoalan krusial yang dihadapi Pemda DKI Jakarta dewasa ini : sampah, banjir dan kemacetan. Ketiga masalah ini saling kait mengkait dan hingga kini belum teratasi secara tuntas. Persoalan itu sering menjadi buah bibir dan pergunjingan negatif dalam wacana publik. Apalagi ketika persoalan mengemuka di depan mata. Pedulikah warga Jakarta untuk ikut mengatasinya ?

Sampah

Pembuangan sampah secara ” open dumping” terbukti telah banyak menimbulkan musibah. Sebut saja kasus longsornya TPA Luewi Gajah setinggi 30 m pada Februari 2005 yang merenggut 24 nyawa, perembesan air lindi TPA Bantar Gebang, kasus kerusuhan TPST Bojong Namun, pembuangan sampah di TPA-TPA masih saja dilakukan oleh Dinas Kebersihan DKI Jakarta.

Sudah saatnya warga Jakarta berhenti membuang sampah sembarangan, apalagi di selokan atau sungai. Sudah saatnya pula Pemda DKI menerapkan UU Tata Kelola Sampah berikut juklak operasional turunannya.

Bila Juni 2008 kota Beijing melakaukan kampanye untuk mulai melarang penggunaan kantong plastik di Mall dan Pasar, ada baiknya Pemda DKI mengikuti cara demikian.. Dengan pembatasan penggunaan plastik untuk kantong bungkus kita bisa lebih mudah menciptakan lingkungan yang bersih, indah dan nyaman, termasuk menghindari luapan banjir yang fatal akibat tumpukan plastik di parit atau selokan-selokan.,

Kita diberikan akal untuk mengubah sampah menjadi berkah. Sebagai contoh, dengan cara memilih dan memilah dari hulunya dan mengolah , kita bisa mengubah sampah organik menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis seperti : kompos untuk tanaman ; biomas untuk energi alternatif industri atau arang briket biomas sebagai energi dapur.

Dengan cara itu warga bisa berperan aktif ikut mengurangi emisi gas rumah kaca seperti CO2 dan CH4 ( gas metan) yang ditimbulkan oleh perilaku kita dalam menangani sampah. Membuang sampah sama saja dengan memindahkan atau menciptakan masalah di kemudian hari.

Mengolah sampah perlu pelatihan dan niat untuk berubah yaitu mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru. Dari membuang à menjadi memilih, memilah dan mengolah ( 3M) . Hal ini sulit, sebab dalam pola pikir manusia lama telah tertanam dalam hati sanubari bahwa sampah adalah limbah yang harus dibuang dan dicampakkan jauh-jauh.

Sedangkan, dalam pola pikir manusia baru yang melihat segalanya dari kacamata positif dan produktif. Misalnnya, sampah adalah prospektus yang bisa diubah menjadi sesuatu yang bernilai rupiah.

Banjir

Jangan heran bila banjir akan terus melanda Jakarta. Pasalnya, perubahan cuaca sebagai dampak dari pemanasan global yang dipicu oleh tingginya emisi gas rumah kaca telah membawa kesengsaraan penduduk di planet bumi ini. Perubahan iklim telah mengubah pola cuaca menjadi sangat ekstrim. Kini, kita sering mendapati turunnya hujan dan banjir di musim kemarau dan panas ekstrim di musim hujan. Karena perubahan iklim, cuaca pun sulit diprediksi.

Apa yang bisa dilakukan oleh warga korban banjir ? Janganlah mengumpat pemerintah bila terkena musibah banjir. Apalagi bila sebagian warga justru sering bertindak sebagai faktor penyebab masalah ketimbang pemecah. Sebagai contoh, mereka cenderung membuang sampah bukannya mengolah, merusak lingkungan atau ekosistem ketimbang menjaga dan melestarikannya.

Bagi warga yang sering dilanda banjir, jangan puas terima nasib dan pasrah. Sebab, trend ke depan cuaca, curah hujan dan banjir akan tetap menjadi ancaman. Terkecuali warga rela berjaga dan sedia perahu karet di atap rumahnya, sehingga ketika banjir mengepung, warga siap mengapung atau mengungsi menyelamatkan diri.

Bagi warga yang rumahnya kebanjiran, cara terbaik menyelamatkannya adalah menyingkir atau migrasi ke tempat yang lebih tinggi. Sebab, sekalipun menghuni rumah mewah, bila area itu dataran rendah, apalagi area resapan air tanah predikat kependudukan mereka adalah tak ramah lingkungan. Apalagi menghuni bantaran kali yang semestinya menjadi lahan penyangga daerah aliran sungai ( DAS). Bila pepohonan dan hutan adalah paru-paru bumi, maka bantaran kali dan lahan daratan kedap air adalah lahan penyangga dan area resepan . Bak paru-paru bumi, saringan resepan air tanah itu adalah sumber kehidupan manusia di bumi. Akankah kita bunuh diri dengan merusak resapan dan ekosistem yang semestinya kita jaga dan pelihara kelangsungannya itu ?

Kemacetan

Kemacetan lalulintas ibukota agaknya sulit teratasi dalam waktu singkat, walaupun pembangunan lajur-lajur baru busway terus dilakukan. Namun, bukankah lajur busway itu asal mulanya juga ” public way – yaitu lajur kendaraan umum yang terserobot dan tak tergantikan ?

Selagi keseimbangan antara panjang/ruas jalan dengan jumlah kendaraan tak terkelola secara imbang, mustahil berharap lalu-lintas ibukota bisa lancar seperti diimpikan. Apalagi produsen otomotif terus memasok aneka jenis kendaraan roda dua dan empat melalui cara perniagaan yang memikat dan mudah.

Untuk mengatasi kemacetan di ibukota, diperlukan kebijakan dan komitmen yang tegas, tindakan jelas dan berani. Apapun terobosan yang dilakukan oleh Pemda DKI esensinya adalah menyeimbangkan antara “supply and demand “ membangun disiplin dan ketertiban, serta menghadirkan kenyamanan dan kepastian.

Mengelola Jakarta dengan ketiga persoalan diatas yaitu banjir, kemacetan dan sampah agaknya Pemda DKI bersama-sama pemerintah pusat perlu menerapkan “manajemen tangan besi” . Tentu cara ini tidak untuk selamanya namun secara adhoc .Warga DKI pun dituntut peran dan pengorbanannya agar kebijakan dan komitmen keras dan tegas itu bisa membawa hasil beda, nyata dan bermakna. Semoga !. jbbasuki@yahoo.com.. Penulis adalah pemerhati masalah global warming, garbologist (praktisi olah sampah) dan direktur e-Green.

Selamat Datang !

Salam jumpa di dunia maya.