Oleh JB Basuki
Sampah adalah limbah, yang harus dibuang jauh dari tatapan mata. Inilah cara pandang lama, tradisi lama orang memperlakukan sampah. Berbeda dengan cara pandang baru yaitu sekelompok orang yang mulai peduli untuk mengolah sampah. Mereka mampu mengubah sampah menjadi berkah rupiah. Contoh nyata adalah apa yang kini saya lakukan. Saya sendiri heran. Kenapa dari telekomunikasi dan Humas kok ke cebur ke sampah. Apakah gara2 ketemu Pak Renald Khasali 2 tahun lalu, sehingga saya begitu jatuh cinta dengan sampah dan upaya reduksi emisi gas rumah kaca - faktor penyebab global warming ? I don’t understand myself.
Namun, yang jelas saya bangga menjadi garbologist alias tukang olah sampah Sampah benar-benar memiliki nilai ekonomis/jual dalam tangan-tangan kreatif. Yang terpenting adalah niat, komitmen dan sedikit kemampuan untuk mengubah timbunan sampah menjadi berkah rupiah – GiGo – Garbage In Gold Out – Dari sampah jadilah rupiah.
3 Kunci Utama
- sosialisasi - kenali jenis sampah dan pahami nilai gunanya
- memiliki niat - kemauan untuk mengolah bukan membuang
- miliki kemampuan - untuk mengubah sampah menjadi sesuatu yang bernilai
1. Sosialisasi.
Kata pepatah ” seeing is believing” – lihat dulu baru yakin percaya. Selagi kita belum melihat langsung pemberdayaan sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat kita cenderung tidak peduli. Tahap awal untuk mengubah niat orang adalah dengan sosialisasi dan memperkenalkan kepada khalayak bahwa sampah bak saham adalah prospectus.
Melalui sosialisasi terjadi perubahan dan cara pandang baru seseorang terhadap sampah. Sampah tak harus dibuang dan dicampakkan, tapi bisa dicintai, diakrabi sejak dini dari hulunya. Mengubah kebiasaan negatif ( membuang/mencampakkan) itu perlu waktu dengan proses sosialisasi yang menerus.
Mengetahui dampak pembuangan sampah secara liar yang membahayakan lingkungan itu juga perlu seperti : timbulnya polusi co2, air lindi dan polusi tanah, munculnya gas metan ch4 yang sangat2 membahayakan, lingkungan menjadi kotor dll.
Secara umum, warga belum mengetahui dampak negatif tersebut. Dengan membuat orang paham terhadap bahayanya kita berharap munculnya kesadaran dan kepedulian untuk ikut berbuat sesuatu yang positif, seperti : tidak buang sampah sembarangan, mau memilah jenis sampah, mau berhemat listrik tenaga batubara dll. Perubahan pola pikir ini hanya mungkin dicapai melalui proses sosialisasi yang menerus/berkelanjutan
2. Kenali Jenis Sampah.
Sesuai jenisnya sampah terbagi kedalam 2 macam yaitu limbah organik dan limbah anorganik. Limbah B3, itu urusan instansi dan institusi terkait, sudah ada yang mengatur.
Mencampur-adukan antara kedua jenis limbah tersebut akan menimbulkan masalah yang merepotkan di kemudian hari. Dengan mengenali limbah sesuai jenisnya, seseorang dapat melakukan pemisahan antara yang organik dan anorganik sejak dini dari hulunya. Dengan demikian akan menghindarkan cara olah sampah di hilirnya yang relatif tidak manusiawi. Siapa mau sih mengolah sampah gado2 yang yang baunya menyengat. Hanya pemulung dengan dengan segala keterpaksaannya sudi bergelut dnegan smapah di hilir. Tapi mereka bukan mengolah, mereka mangais dan memungut sesuatu yang ia pandang bernilai saja. Memisah dan memilih sampah sesuai jenisnya itu penting.
3. Pahami nilai guna. Hal ini merupakan proses lebih lanjut setelah seseorang mengenali jenis sampah. Dengan memahami nilai guna masing-masing jenis sampah, seseorang bisa memisahkan antara limbah yang satu dengan yang lain dari sejak dini. Kegiatan memilah dan memilih ini sangat penting di saat awal. Simpul-simpul hulu produsen sampah adalah keluarga, komnitas pasar, komunitas perkantoran dll. Sayang simpul-simpiul itu masih berpegang pada habitus lama bahwa sampah ya sampah yang harus dibuang dan dicampakkan. Sebagai generasi hijau, apalagi sudah diundang UU Pengelolaan Sampah sejak Mei 2008 kita harus bertanggung jawab, perlakukan sampah sesuai atauran perundangan. Setidak bisa ikut men treat smapah menjadi GiGo. Sebab, sekali lagi sampah kini sampah benar-benar bisa diubah menjadi sesuai yang bernilai. Bila Pabrik Semen Cibinong bisa mengubah sampah jadi dollar melalui ”emission trade and cap” . Saya taka mau kalah . ” To me, garbage is indeed rupiahble” . Pesanlaha mesin crusher buatan e-Green (jbb) and dollarable. Sebab dari sampah bisa jadi berkah seperti : kompos, biomas, arang briket organik sebagai energi dapur dan cairan distilasi hasil pengolahan sampah organik menjadi cairan pengawet makanan.
Namun, sekali lagi saya katakan, untuk bisa mengubah sampah menjadi rupiah, diperlukan niat, kemauan dan kemampuan. Hal ini bisa muncul setelah proses sosialisasi dan penyadaran akan dampak bahaya smapah bila tak diolah dan nilai kegunaan sampah bila dikelola dengan baik. *** Penulis adalah pendiri e-Green , konsultan pelatihan ubah sampah jadi berkah, tinggal di Jakarta . jbbasuki@yahoo.com; jbbasuki@digitalsignageindonesia.com
No comments:
Post a Comment