Sampah, Banjir & Kemacetan
SIAPA PEDULI ?
Oleh JB Basuki
Ada tiga persoalan krusial yang dihadapi Pemda DKI Jakarta dewasa ini : sampah, banjir dan kemacetan. Ketiga masalah ini saling kait mengkait dan hingga kini belum teratasi secara tuntas. Persoalan itu sering menjadi buah bibir dan pergunjingan negatif dalam wacana publik. Apalagi ketika persoalan mengemuka di depan mata. Pedulikah warga Jakarta untuk ikut mengatasinya ?
Sampah
Pembuangan sampah secara ” open dumping” terbukti telah banyak menimbulkan musibah. Sebut saja kasus longsornya TPA Luewi Gajah setinggi 30 m pada Februari 2005 yang merenggut 24 nyawa, perembesan air lindi TPA Bantar Gebang, kasus kerusuhan TPST Bojong Namun, pembuangan sampah di TPA-TPA masih saja dilakukan oleh Dinas Kebersihan DKI Jakarta.
Sudah saatnya warga Jakarta berhenti membuang sampah sembarangan, apalagi di selokan atau sungai. Sudah saatnya pula Pemda DKI menerapkan UU Tata Kelola Sampah berikut juklak operasional turunannya.
Bila Juni 2008 kota Beijing melakaukan kampanye untuk mulai melarang penggunaan kantong plastik di Mall dan Pasar, ada baiknya Pemda DKI mengikuti cara demikian.. Dengan pembatasan penggunaan plastik untuk kantong bungkus kita bisa lebih mudah menciptakan lingkungan yang bersih, indah dan nyaman, termasuk menghindari luapan banjir yang fatal akibat tumpukan plastik di parit atau selokan-selokan.,
Kita diberikan akal untuk mengubah sampah menjadi berkah. Sebagai contoh, dengan cara memilih dan memilah dari hulunya dan mengolah , kita bisa mengubah sampah organik menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis seperti : kompos untuk tanaman ; biomas untuk energi alternatif industri atau arang briket biomas sebagai energi dapur.
Dengan cara itu warga bisa berperan aktif ikut mengurangi emisi gas rumah kaca seperti CO2 dan CH4 ( gas metan) yang ditimbulkan oleh perilaku kita dalam menangani sampah. Membuang sampah sama saja dengan memindahkan atau menciptakan masalah di kemudian hari.
Mengolah sampah perlu pelatihan dan niat untuk berubah yaitu mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru. Dari membuang à menjadi memilih, memilah dan mengolah ( 3M) . Hal ini sulit, sebab dalam pola pikir manusia lama telah tertanam dalam hati sanubari bahwa sampah adalah limbah yang harus dibuang dan dicampakkan jauh-jauh.
Sedangkan, dalam pola pikir manusia baru yang melihat segalanya dari kacamata positif dan produktif. Misalnnya, sampah adalah prospektus yang bisa diubah menjadi sesuatu yang bernilai rupiah.
Banjir
Jangan heran bila banjir akan terus melanda Jakarta. Pasalnya, perubahan cuaca sebagai dampak dari pemanasan global yang dipicu oleh tingginya emisi gas rumah kaca telah membawa kesengsaraan penduduk di planet bumi ini. Perubahan iklim telah mengubah pola cuaca menjadi sangat ekstrim. Kini, kita sering mendapati turunnya hujan dan banjir di musim kemarau dan panas ekstrim di musim hujan. Karena perubahan iklim, cuaca pun sulit diprediksi.
Apa yang bisa dilakukan oleh warga korban banjir ? Janganlah mengumpat pemerintah bila terkena musibah banjir. Apalagi bila sebagian warga justru sering bertindak sebagai faktor penyebab masalah ketimbang pemecah. Sebagai contoh, mereka cenderung membuang sampah bukannya mengolah, merusak lingkungan atau ekosistem ketimbang menjaga dan melestarikannya.
Bagi warga yang sering dilanda banjir, jangan puas terima nasib dan pasrah. Sebab, trend ke depan cuaca, curah hujan dan banjir akan tetap menjadi ancaman. Terkecuali warga rela berjaga dan sedia perahu karet di atap rumahnya, sehingga ketika banjir mengepung, warga siap mengapung atau mengungsi menyelamatkan diri.
Bagi warga yang rumahnya kebanjiran, cara terbaik menyelamatkannya adalah menyingkir atau migrasi ke tempat yang lebih tinggi. Sebab, sekalipun menghuni rumah mewah, bila area itu dataran rendah, apalagi area resapan air tanah predikat kependudukan mereka adalah tak ramah lingkungan. Apalagi menghuni bantaran kali yang semestinya menjadi lahan penyangga daerah aliran sungai ( DAS). Bila pepohonan dan hutan adalah paru-paru bumi, maka bantaran kali dan lahan daratan kedap air adalah lahan penyangga dan area resepan . Bak paru-paru bumi, saringan resepan air tanah itu adalah sumber kehidupan manusia di bumi. Akankah kita bunuh diri dengan merusak resapan dan ekosistem yang semestinya kita jaga dan pelihara kelangsungannya itu ?
Kemacetan
Kemacetan lalulintas ibukota agaknya sulit teratasi dalam waktu singkat, walaupun pembangunan lajur-lajur baru busway terus dilakukan. Namun, bukankah lajur busway itu asal mulanya juga ” public way – yaitu lajur kendaraan umum yang terserobot dan tak tergantikan ?
Selagi keseimbangan antara panjang/ruas jalan dengan jumlah kendaraan tak terkelola secara imbang, mustahil berharap lalu-lintas ibukota bisa lancar seperti diimpikan. Apalagi produsen otomotif terus memasok aneka jenis kendaraan roda dua dan empat melalui cara perniagaan yang memikat dan mudah.
Untuk mengatasi kemacetan di ibukota, diperlukan kebijakan dan komitmen yang tegas, tindakan jelas dan berani. Apapun terobosan yang dilakukan oleh Pemda DKI esensinya adalah menyeimbangkan antara “supply and demand “ membangun disiplin dan ketertiban, serta menghadirkan kenyamanan dan kepastian.
Mengelola Jakarta dengan ketiga persoalan diatas yaitu banjir, kemacetan dan sampah agaknya Pemda DKI bersama-sama pemerintah pusat perlu menerapkan “manajemen tangan besi” . Tentu cara ini tidak untuk selamanya namun secara adhoc .Warga DKI pun dituntut peran dan pengorbanannya agar kebijakan dan komitmen keras dan tegas itu bisa membawa hasil beda, nyata dan bermakna. Semoga !. jbbasuki@yahoo.com.. Penulis adalah pemerhati masalah global warming, garbologist (praktisi olah sampah) dan direktur e-Green.
No comments:
Post a Comment